Sabtu, 07 Mei 2011

Tentang Mereka

Ditemani hujan, Bogor 23 April 2011

Ada banyak hal yang kudapatkan dari mereka malam ini, dari Adi aku belajar secara langsung bertahan dari kehilangan, hal yang paling kutakuti. Diumurnya yang baru 10 tahun ia telah kehilangan sang ayah, hanya ibu dan sang kakak yang menemani. Tapi jangan harap akan menemukan sendu diwajahnya, dikelas dia akan selalu ceria, tak kenal menyerah untuk menyelesaikan soal matematika yang kuberi dan semangat bermain ketika bertemu bola dan lapangan.

Ada Iqbal, pendiam yang sangat teliti dalam mengerjakan hitungannya. Saya melihat betapa rendah hatinya ia, dengan kemampuannya memahami pelajaran yang lebih cepat dibanding yang lain. Jangankan bersikap tinggi hati, dia bahkan dengan senang hati akan menolong saya membantu temannya yang belum paham, dan…dia lebih sabar mengajarinya dibanding kesabaran yang saya punya. Dan saya malu pada kenyataan ini.

Seorang yang biasa saja, tidak menonjol dalam pelajaran apapun tapi dia yang pertama akan datang membantu saat saya membawa setumpuk tugas-tugas yang harus diperiksa. Regi, mungkin biasa saja, tapi dia tidak biasa dimata saya, siswa pertama yang membuat saya merasa aman walaupun saat suasana kelas riuh. “tenang bu, ada saya, saya yang akan jadi asisten ibu” ucapnya saat melihat saya mulai kewalahan mengatur teman-temannya yang lain. Dan tadi, ditengah gerimis hujan, dia dengan sukarela menawarkan diri menjemput 2 kawannya yang terlambat datang, yang jarak perjalanannya tidak bisa dikatakan dekat. Betapa mudahnya dia memberi pertolongan…ah matanya menyimpan banyak hal.

=====================================================

Mungkin itu sebagian serpihan cerita yang kusimpan tentang salah tiga diantara mereka, hampir 3 bulan bersama mereka, membagi sedikit ilmu yang kupunya. Tapi yang sebenarnya mereka yang mengajari saya banyak hal, mengajari kelapangan hati, mengajarkan betapa mudahnya mereka memaafkan dan betapa selalu bahagia melihat mereka tersenyum tanpa beban…jika ingin belajar ketulusan, lihatlah mereka.
Dan esok, adalah hari terakhir bertemu mereka dalam arti yang sebenarnya, esok waktu magang saya berakhir…dan sesak itu semakin terasa tiap detik berjalan waktunya menuju esok. Baru kali ini saya berharap esok tidak datang dengan cepat.
Dan kini waktunya membuat kotak kenangan baru…kenangan baru untuk mereka…mereka memberi banyak hal yang belum saya punyai…terima kasih nak.

jangan ucapkan selamat tinggal, tapi ucapkan sampai jumpa ^_^


Diselesaikan, Bogor 06 Mei 2011
Ditemani kicauan Kick Andy.

Jumat, 22 April 2011

Nakamura dan 'jalan'

Semua yang kukerjakan ini akan menjadi contoh baginya, kalau berbuat baik bagi orang lain, bermanfaat bagi orang banyak, jauh lebih berharga dibandingkan apapun….

Demikian kalimat Nakamura-san kepada Burlian, singkat tapi tidak sesingkat maknanya. Dalam kalimat yang tidak lebih dari 25 kata itu mengajarkan bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Nakamura meninggalkan keluarga dan keiko -sang anak tercinta- karena tuntutan pekerjaan sebagai kepala proyek pembangunan jalan ditanah Sumatera.

“Membangun jalan-jalan ini, bukan sekedar menumpahkan batu dan aspal, bukan sekedar membuat parit dan jembatan. Ini semua tentang masa depan orang-orang yang dilewati proyek jalan. Jalan ini tidak pernah berujung, tidak pernah….jalan-jalan ini akan terus mengalir meliwati lembah-lembah basah, lereng-lereng gunung terjal, kota-kota ramai, desa-desa eksotis nan indah, tempat-tempat yang memberikan pengetahuan, tempat-tempat yang menjanjikan masa depan…lantas jalan ini akan terus…terus menuju pelabuhan-pelabuhan, bandara-bandara…dan dari sana kau bahkan bisa pergi lebih jauh lagi, menemukan sambungan jalan berikutnya…mengiringi dunia…melihat seluruh dunia, masa depan anak-anak kampung, masa depan bangsa kalian. Masa depan kau yang penuh kesempatan, Burlian”

Lewat tokoh-tokohnya, Tere-liye dalam novelnya ‘Burlian’ menyampaikan banyak pelajaran. Melalui Nakamura saya kembali disentil dengan pertanyaan “apakah saya sudah sudah bermanfaat untuk orang lain?”.

Pembangun jalan dan pendidik, dua profesi yang berbeda, tapi tere-liye membuatnya tidak jauh berbeda dimata saya. Jalan, mengantarkan seseorang melihat dunia, menjelajah tempat lain, menemukan masa depan. Tidak jauh berbeda dengan seorang pendidik bukan? 

Seorang guru, menjadi ‘jalan’ bagi anak didiknya untuk mereguk ilmu, merajut mimpi masa depan, bahkan dengan ilmu itu pula menjadi bekal bagi sang anak untuk menatap masa depan yang penuh kesempatan. Lalu masihkah kita harus ragu pada pilihan yang telah kita buat?

Nakamura meninggalkan kota, negara dan orang-orang yang disayanginya demi membuat ‘jalan’ bagi orang lain, yang bahkan bukan bangsanya sendiri. Kita pun memulai langkah itu, meninggalkan kota dan keluarga yang kita sayangi untuk memberi sepotong ‘jalan’ bagi anak-anak didik kita. Namun apakah kita akan memilih seperti Nakamura, yang menyelesaikan ‘jalan’nya hingga akhir? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.


Daftar Pustaka:
Tere Liye. Burlian. 2009. Jakarta: Penerbit Republika